Home / berita umum / Merosotnya Harga Minyak Dunia Karena Stock Minyak AS Bertambah

Merosotnya Harga Minyak Dunia Karena Stock Minyak AS Bertambah

Merosotnya Harga Minyak Dunia Karena Stock Minyak AS Bertambah – Harga minyak mentah dunia turun seputar 2 % pada perdagangan Rabu (22/5), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipacu oleh membengkaknya persediaan minyak mentah AS yang di luar sangkaan.

Diluar itu, kecemasan investor pada perselisihan dagang di antara AS serta Beijing yang bisa mengganggu keinginan minyak mendesak harga minyak.

Dikutip dari Reuters, Kamis (23/5), harga minyak mentah Brent berjangka turun US$1,19 atau 1,7 % jadi US$70,99 per barel. Pelemahan lebih dalam berlangsung di harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,71 atau 2,7 % jadi US$61,42 per barel.

Tubuh Administrasi Info Daya AS mencatat stock minyak mentah AS pada minggu lalu abuh 4,7 juta barel jadi 476,8 juta barel, paling tinggi semenjak Juli 2017. Jadi pembanding, survey analis Reuters memprediksi penurunan sebesar 599 ribu barel.

Direktur Kontrak Berjangka Mizuho Bob Yawger mengutarakan laporan stock minyak mentah AS adalah hal jelek mengingat sesaat masuk musim pemakaian kendaraan di AS.

“Ini ada di berlebihan paling ujung dari beberapa peluang laporan yang berbentuk mendesak harga (bearish),” tutur Yawger di New York.

Persediaan bensin dengan mengagetkan tunjukkan penambahan sebesar 3,7 juta barel, ditengah-tengah keinginan bensin yang konstan ke arah musim mengemudi. Walau sebenarnya, beberapa analis memprediksi penurunan sebesar 816 ribu barel.

“Operator kilang bekerja dengan pergerakan yang lamban pada periode ini,” tutur Mitra Again Capital LLC John Kilduff waktu menerangkan unsur penyebab membengkaknya stock bensin di New York, diambil dari Reuters, Kamis (23/5).

Prospek berlangsungnya perang biaya di antara AS serta China ikut mendesak harga. Perbincangan kelanjutan di antara petinggi tinggi ke-2 negara belum direncanakan semenjak bahasan paling akhir yang selesai pada 10 Mei kemarin. Waktu itu, bahasan berbuntut pada ketetapan Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan biaya import produk China.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchib menjelaskan AS paling tidak butuh waktu satu bulan sebelum memastikan pengenaan biaya import China selanjutnya. Sekarang ini, AS masih memperlajari efek pengenaan biaya itu pada customer.

Perselisihan dagang di antara AS-China mendesak prediksi perkembangan ekonomi serta keinginan minyak global. Pada Selasa (21/5) lalu, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi serta Pembangunan (OECD) memotong prediksi perkembangan ekonomi untuk tahun ini dari 3,3 % jadi 3,2 %.

Penurunan di pasar modal yang umumnya dibarengi oleh merosotnya pasar minyak meningkatkan desakan di harga minyak.

Selain itu, menghangatnya tekanan di antara AS serta Iran yang bisa mengganggu suplai menolong meredam penurunan harga minyak lebih dalam.

Diluar itu, harga masih didukung oleh peluang berlanjutnya kebijaksanaan pemangkasan produksi yang dikerjakan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta sekutunya, termasuk juga Rusia.

Pemimpin de facto OPEC Arab Saudi mengatakan sudah memiliki komitmen untuk membuat kesetimbangan serta keberlanjutan pasar minyak.

Satu diantara bank asal AS Morgan Stanley memprediksi Brent akan bergerak di rata-rata US$75 sampai US$80 per barel pada paruh ke-2 tahun ini karena didorong oleh ketatnya suplai dalam penuhi keinginan.

About penulis77