Home / berita umum / Pembantaian Di Pedalaman Aceh

Pembantaian Di Pedalaman Aceh

Pembantaian Di Pedalaman Aceh – Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh siang itu mendadak riuh. Tiga kapal Belanda memiliki ukuran besar merapat, membawa beberapa ratus orang yang diangkut dari tanah seberang. Tak kurang dari 10 orang perwira, 13 bintara, dan paka geologi serta tenaga medis berkebangsaan Eropa ikut dalam rombongan itu.

Itu belum termasuk juga 473 orang mandor, beberapa puluh kuli paksa, penunjuk jalan, dan 208 anggota marsose dengan kata lain Korps Marechaussee te Voet, unit militer yang bernaung dibawah Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) dengan kata lain Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Meski memiliki loabel penjajah, beberapa besar anggota marsose itu malah datang dari orang lokal sendiri. Mereka yaitu beberapa pemuda yang di ambil dari Jawa sampai Maluku untuk jadikan sebagai prajurit kolonial, termasuk juga dalam menggerakkan misi utama di tanah rencong.

Hari itu, 8 Februari 1904, Belanda mengawali operasi militer untuk mengakhiri Perang Aceh yang sudah berjalan sepanjang beberapa puluh th., sekalian menangkap Cut Nyak Dien yang masihlah lakukan perlawanan lewat cara bergerilya.

Yohannes Benedictus van Heutsz sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu benar-benar sangat berambisi kuasai semua lokasi Aceh. Maklum, van Heutsz pernah ikut serta segera dalam Perang Aceh, bahkan juga pernah jadi gubernur di lokasi itu, namun senantiasa tidak berhasil.
Misi Penaklukan Total

Dari Banda Aceh, rombongan pimpinan van Daalen bertolak ke Lhokseumawe yang disebut maksud akhir pelayaran mereka. Selanjutnya, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang trem menuju Bireuen yang ditempuh dalam tempo sekitaran 4 jam.

Beberapa ratus orang itu mesti jalan kaki dari Bireuen. Jalur hanya satu untuk meraih Gayo memanglah cuma jalan darat dengan medan pegunungan yang susah di pedalaman Aceh itu. Long march menuju Gayo juga ditempuh dengan mengonsumsi saat sampai 163 hari (Ibrahim Alfian, Muka Aceh dalam Lintasan Histori, 1999 : 229).

Ekspedisi ke tanah Gayo serta Alas tersebut berawal dari laporan hasil penelitian Snouck Hurgronje bertopik ” Het Gajolan en Zijn Bewoners ” atau “Tanah Gayo serta Penduduknya” pada van Heutsz. Sang Gubernur Jenderal juga selekasnya merespons dengan menunjuk Gotfried Coenraad Ernst van Daalen sebagai pemimpin operasi militer ke Aceh.

Dipilihnya van Daalen pastinya bukanlah tanpa ada argumen. Keluarga van Daalen sangatlah memiliki pengalaman di Aceh. Bapak Gotfried, van Daalen Sr., pernah menjabat kapten dalam Perang Aceh periode ke-2 (1874-1880), namun tidak berhasil merampungkan misinya. Van Daalen muda juga begitu ketertarikan terima penunjukan itu sekalian untuk menyelesaikan pekerjaan bapaknya.

Terakhir, Hurgronje malah muak dengan tindakan van Daalen yang dinilainya melampaui batas dalam ekspedisi ke Aceh pada 1904 itu. Tetapi tak sekian dengan van Heutsz. Ia bahkan juga menyebutkan van Daalen sebagai sosok yang “terkadang kasar serta keras, begitu ketat serta semena-mena dalam aksinya, namun dapat juga membuat perlindungan serta memaafkan. ”

Sesudah lewat beragam halangan, dari mulai keadaan medan yang susah, semakin menipisnya cadangan logistik, sampai serangan-serangan mendadak yang dilancarkan oleh golongan gerilyawan, rombongan van Daalen pada akhirnya hingga juga di tanah Gayo. Misi penaklukan keseluruhan juga diawali.

Sebentar sesudah tiba, van Daalen segera kirim surat pada raja-raja Gayo supaya mereka selekasnya menghadap. Van Daalen menginginkan beberapa pemimpin rakyat itu di tandatangani kesepakatan takluk seperti yang sudah dikerjakan banyaknya pemimpin rakyat di lokasi Aceh yang lain (Dien Madjid, Catatan Tepi Histori Aceh, 2014 : 280).

Tanggapan beberapa pemimpin Gayo nyatanya diluar sangkaan. Tak ada satu juga dari mereka yang penuhi undangan itu. Van Daalen yang murka lalu menggerakkan pasukan untuk menyisir satu untuk satu perkampungan di lokasi itu. Raja-raja serta pemuka orang-orang dipaksa datang. Bila tetaplah malas, moncong senjata yang bakal bicara.
Tindakan Pembantaian Massal

Rakyat Gayo bersikukuh, tak sudi takluk serta pilih selalu melawan. Beberapa orang Gayo miliki ciri khas dalam berperang atau menjaga diri. Semuanya penghuni desa tanpa ada terkecuali berkumpul di benteng-benteng dari bambu serta semak berduri untuk menahan gempuran musuh.

Beberapa besar dari mereka menggunakan baju serba putih untuk mengisyaratkan kalau berikut perang suci melawan golongan kafir. Walau dengan senjata seadanya ditambah munajat pada Sang Pencipta, rakyat Gayo melawan hingga titik darah penghabisan. Mereka tambah baik mati di jalan Tuhan daripada jadi tawanan.

Van Daalen sendiri tak mengaplikasikan taktik spesial, ia cuma memerintahkan supaya semua musuh dibasmi tanpa ada ampun. Deli Courant (1940) mengatakan, dalam satu penaklukan di satu diantara desa di Gayo, beberapa ratus warga dibantai, korban tewas terbagi dalam 313 pria, 189 wanita, serta 59 anak-anak. Itu baru korban di satu desa, belum di desa-desa Gayo yang lain.

Tidak cuma di Gayo, tindakan genosida ala Belanda selalu berlanjut ke lokasi Suku Alas di Aceh Tenggara. Satu diantara insiden paling keji berlangsung pada 14 Juni 1904 di Kuto Reh. Menurut Asnawi Ali, bekas tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), ada 2. 922 orang tewas dalam tragedi itu, yaitu 1. 773 lelaki serta 1. 149 perempuan, termasuk juga anak-anak serta orangtua.

Kenyataan yang lebih mengagetkan terlebih dulu malah sudah disibak oleh ajudan van Daalen, J. C. J. Kempees. Dalam laporan berjudul ” De tocht van Overste van Daalen door de Gajo, Alas-en Bataklanden ” (1904), Kempees menyebutkan kalau ekspedisi militer Belanda di pedalaman Aceh itu sekurang-kurangnya mengonsumsi korban nyawa sampai 4. 000 orang.

Masih tetap dalam laporannya itu, Kempees juga memasukkan bebrapa photo sebagai bukti kalau sudah berlangsung pembantaian besar-besaran pada beberapa orang dari Suku Gayo ataupun Alas. Setiap saat selesai penyerbuan, van Daalen memanglah memerintahkan ajudannya untuk memphoto tumpukan-tumpukan mayat dengan beberapa marsose yang berpose di sekelilingnya (Dien Madjid, 2014 : 282).

Ekspedisi militer Belanda ke pedalaman Aceh yang berlanjut sampai ke tanah Karo di Sumatera Utara itu bisa disebut jadi babak akhir Perang Aceh. Dalam rangkaian tindakan itu, Cut Nyak Dhien pada akhirnya tertangkap serta lalu diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, sampai meninggal dunia.

Walau Cut Nyak Dien sebagai pimpinan paling akhir sudah di tangkap, namun beberapa pejuang serta rakyat Aceh selalu lakukan perlawanan pada Belanda meski dalam taraf yang lebih kecil. Itu berjalan bahkan juga sampai Belanda menyerah pada Jepang pada 1942.

Tidak sama dengan masalah Westerling serta beberapa luka histori yang lain, sampai sekarang ini pihak Belanda belum pernah mohon maaf dengan cara resmi berkaitan pembantaian yang berlangsung di pedalaman Serambi Mekkah yang berjalan sepanjang 3 bln. di th. 1904 itu.

About admin